Siapa Sebenarnya yang Menulis Babad Tanah Jawi?
Lensa Muda · Dari Penelitian · Agama dan Budaya
Buku sejarah yang kita baca hari ini ternyata bisa mengalami banyak perubahan. Penelitian saya tentang Babad Tanah Jawi memperlihatkan bagaimana pujangga kerajaan dan ilmuwan Belanda ikut membentuk cerita tentang masa lalu Jawa.
Ringkasan
Pernahkah kamu bertanya siapa yang menentukan cerita sejarah yang kita baca? Apakah orang yang pertama kali menulisnya, orang yang memperbaiki tulisannya, atau orang yang menerbitkannya menjadi buku?
Pertanyaan itulah yang saya pelajari melalui Babad Tanah Jawi, sebuah karya sastra sejarah yang menceritakan asal-usul dan perjalanan kerajaan-kerajaan di Jawa. Naskah ini mengalami perubahan selama hampir dua abad dan melibatkan sejumlah pujangga kerajaan serta ilmuwan Belanda.
Dalam penelitian yang saya terbitkan pada 2025, saya menemukan bahwa Yasadipura I memiliki peran penting dalam penyusunan versi utama Babad Tanah Jawi. Namun, ia bukan satu-satunya tokoh yang berkontribusi. Para penulis sebelumnya, seperti Carik Bajra, juga ikut membentuk cerita di dalamnya. Ketika ilmuwan Belanda mengubah karya berbentuk tembang menjadi prosa, muncul persoalan baru: siapa yang berhak menentukan bentuk dan makna sejarah Jawa?
Penelitian ini mengajak kita memahami bahwa tulisan sejarah tidak hanya berisi cerita tentang masa lalu, tetapi juga dapat dipengaruhi oleh kepentingan orang-orang yang menulis, mengubah, dan menyebarkannya.
Kata kunci: Babad Tanah Jawi; sejarah Jawa; Yasadipura I; pujangga; kolonialisme; naskah kuno.
Bayangkan Jika Buku Sejarahmu Ditulis Ulang
Bayangkan kamu menulis cerita tentang perjalanan sekolahmu. Kamu mencatat berbagai peristiwa, mulai dari perlombaan, pergantian kepala sekolah, hingga kegiatan yang paling berkesan.
Beberapa tahun kemudian, seorang teman menambahkan cerita baru. Teman lainnya memperbaiki sejumlah bagian karena dianggap kurang tepat. Bahkan, ada bagian yang dihilangkan karena dinilai dapat membuat seseorang tersinggung.
Setelah berkali-kali berubah, cerita itu diterbitkan sebagai buku sejarah sekolah. Namun, hanya satu nama yang dicantumkan sebagai penulisnya.
Menurutmu, apakah nama tersebut sudah mewakili semua orang yang ikut menyusun cerita?
Ilustrasi ini membantu kita memahami persoalan yang saya temukan ketika mempelajari Babad Tanah Jawi.
Berbeda dari buku sejarah modern yang biasanya mencantumkan nama penulis secara jelas, naskah sejarah Jawa pada masa kerajaan dapat disusun, diperpanjang, dan diubah oleh beberapa orang pada masa yang berbeda.
Lebih menarik lagi, perubahan itu tidak selalu berkaitan dengan cara menulis. Ada pula kepentingan kerajaan, persaingan politik, dan pengaruh kekuasaan kolonial.
Apa Itu Babad Tanah Jawi?
Babad Tanah Jawi merupakan salah satu karya penting dalam tradisi sejarah dan sastra Jawa. Kata babad merujuk pada kisah yang menceritakan asal-usul, perjalanan, atau peristiwa sejarah suatu wilayah dan penguasanya.
Naskah ini memuat silsilah raja-raja Jawa, cerita tentang berdirinya kerajaan, peperangan, perebutan kekuasaan, dan hubungan antartokoh penting.
Ceritanya bahkan dimulai dari Nabi Adam dan berlanjut hingga peristiwa-peristiwa politik di Jawa pada abad ke-18.
Mengapa silsilah raja disusun begitu panjang?
Pada masa kerajaan, hubungan dengan tokoh-tokoh penting di masa lalu dapat digunakan untuk memperkuat kedudukan seorang penguasa. Seorang raja yang digambarkan berasal dari keturunan tokoh besar akan memiliki dasar simbolis untuk menunjukkan bahwa ia pantas memerintah.
Itulah salah satu fungsi Babad Tanah Jawi: bukan sekadar menceritakan kejadian, melainkan juga membantu membangun pengakuan terhadap kekuasaan kerajaan.
Karena penguasa berganti dan keadaan politik berubah, isi babad pun dapat mengalami penyesuaian.
Namun, kita perlu berhati-hati. Sebuah kisah dalam babad tidak otomatis dapat dianggap sebagai fakta sejarah yang telah terbukti. Peneliti harus membandingkannya dengan sumber lain dan memperhatikan kapan serta untuk siapa cerita tersebut ditulis.
Mengapa Saya Meneliti Naskah Ini?
Saya tertarik pada sebuah persoalan: mengapa sebuah karya yang begitu penting dalam sejarah Jawa masih memiliki perdebatan tentang siapa penulisnya?
Nama Yasadipura I sering dikaitkan dengan Babad Tanah Jawi, terutama versi penting yang disusun pada 1788. Ia dikenal sebagai pujangga dalam lingkungan Keraton Surakarta.
Namun, sejumlah penelitian menunjukkan bahwa sebagian cerita dalam babad sudah ada jauh sebelum masa Yasadipura I. Tokoh lain, termasuk Carik Bajra, kemungkinan berperan dalam penyusunannya.
Masalahnya menjadi semakin menarik ketika ilmuwan Belanda mulai mempelajari dan mengubah naskah tersebut pada abad ke-19.
Saya kemudian menyusun tiga pertanyaan penelitian:
- Siapa saja yang berperan dalam penulisan Babad Tanah Jawi?
- Bagaimana ilmuwan Belanda mengubah bentuk dan penyajian naskah tersebut?
- Apa hubungan antara perubahan tulisan sejarah dan kepentingan politik?
Hasil penelitian ini saya terbitkan pada 2025 dengan judul Writing Java: The Politics of Authorship and Colonial Philology in Babad Tanah Jawi (Fawaid, 2025).
Bagaimana Saya Melakukan Penelitian?
Saya menggunakan penelitian kualitatif dengan mempelajari dan membandingkan sumber-sumber tertulis.
Bahan utama yang saya bahas meliputi versi penting Babad Tanah Jawi tahun 1788, revisi tahun 1836, serta Babad Giyanti, sebuah karya yang menceritakan perpecahan Kerajaan Mataram.
Saya juga mempelajari perubahan naskah menjadi prosa yang berkaitan dengan dua tokoh Belanda, J. J. Meinsma dan C. F. Winter.
Cara ini disebut analisis teks dan intertekstual, yaitu membandingkan beberapa tulisan untuk melihat persamaan cerita, perbedaan penggambaran tokoh, dan hubungan antara satu karya dengan karya lainnya.
Saya tidak melakukan survei terhadap pelajar atau wawancara dengan masyarakat. Penelitian ini berfokus pada naskah, kajian para ahli, serta hubungan antara penulisan sejarah dan keadaan politik pada masa lalu.
Dengan membandingkan sumber-sumber tersebut, saya berusaha memahami bukan hanya apa yang diceritakan, tetapi juga mengapa cerita tertentu ditulis dengan cara yang berbeda.
Apa yang Saya Temukan?
Dari penelitian ini, saya menemukan empat hal penting.
1. Babad Tanah Jawi tidak ditulis oleh satu orang saja
Bayangkan sebuah cerita yang terus dilanjutkan oleh generasi berikutnya. Penulis pertama menyusun bagian awal, lalu penulis lain menambahkan peristiwa baru sesuai perkembangan zaman. Kurang lebih seperti itulah perjalanan Babad Tanah Jawi.
Penelitian sebelumnya menghubungkan perkembangan naskah ini dengan sejumlah tokoh, termasuk Pangeran Panjang Mas, Pangeran Adilangu I dan II, Carik Bajra, serta Yasadipura I (Ras, 1987; Ricklefs, 1997).
Masing-masing tokoh hidup dalam keadaan kerajaan yang berbeda. Karena itu, mereka kemungkinan mempunyai kepentingan dan perhatian yang tidak sepenuhnya sama.
Misalnya, ketika terjadi pergantian raja atau perselisihan keluarga kerajaan, kisah sejarah dapat disusun kembali untuk menjelaskan kedudukan penguasa baru.
Dalam penelitian saya, Yasadipura I tetap dipandang sebagai tokoh penting dalam pembentukan versi utama Babad Tanah Jawi. Akan tetapi, perannya tidak berarti bahwa ia menciptakan seluruh cerita dari awal.
Ini adalah pelajaran pertama yang menarik: nama penulis yang tercantum pada sebuah karya belum tentu menceritakan seluruh proses pembuatannya.
2. Dua pujangga dapat memiliki pandangan politik berbeda
Dua tokoh penting dalam penelitian saya adalah Carik Bajra dan Yasadipura I.
Carik Bajra, yang juga dikenal sebagai Tumenggung Tirtawiguna atau Adipati Sindureja, merupakan tokoh berpengaruh dalam lingkungan Kerajaan Mataram. Ia mempunyai hubungan politik yang dekat dengan pihak Belanda.
Sementara itu, Yasadipura I sering dikaitkan dengan Babad Giyanti, sebuah karya yang memuat gambaran lebih kritis terhadap kekuasaan Belanda.
Dalam penelitian saya, perbedaan tersebut membuka kemungkinan adanya persaingan pemikiran dan kepentingan politik antara keduanya.
Mengapa hal ini penting?
Seorang penulis yang dekat dengan penguasa mungkin menggambarkan suatu peristiwa secara berbeda dari penulis yang lebih kritis terhadap penguasa tersebut.
Misalnya, keputusan seorang raja bekerja sama dengan pihak asing dapat digambarkan sebagai tindakan bijaksana dalam satu cerita, tetapi dipandang merugikan dalam cerita lain.
Perbedaan seperti ini dapat membantu peneliti memahami pandangan yang tersimpan di balik sebuah tulisan.
Meskipun demikian, saya belum menemukan bukti pasti bahwa Carik Bajra dan Yasadipura I secara langsung bersaing dalam penulisan babad. Hubungan tersebut masih merupakan penafsiran berdasarkan sumber-sumber yang tersedia.
Artinya, kita perlu membedakan antara peristiwa yang didukung bukti kuat dan dugaan yang masih membutuhkan penelitian lanjutan.
3. Ilmuwan Belanda mengubah tembang menjadi bacaan prosa
Ada satu perubahan penting yang terjadi ketika ilmuwan Belanda mulai mempelajari Babad Tanah Jawi.
Sebagian versi utama babad disusun dalam bentuk tembang, yaitu karya sastra Jawa yang mengikuti aturan irama dan susunan tertentu.
Bagi masyarakat yang mengenal tradisi tersebut, tembang merupakan bagian dari cara menikmati dan menyampaikan cerita.
Namun, bagi banyak pejabat Belanda yang sedang mempelajari bahasa serta masyarakat Jawa, bentuk ini tidak mudah digunakan sebagai bahan pembelajaran.
Karena itu, sejumlah ilmuwan Belanda mengusahakan penyajian cerita dalam bentuk prosa, yaitu tulisan yang tidak mengikuti aturan tembang.
Dua nama yang saya bahas adalah J. J. Meinsma dan C. F. Winter.
Meinsma dikenal melalui penerbitan versi prosa Babad Tanah Jawi, sedangkan Winter juga mengerjakan versi prosa berdasarkan naskah yang berbeda (Remmelink, 2022; Wieringa, 1999).
Mengubah tembang menjadi prosa memang dapat membuat cerita lebih mudah dipelajari oleh pembaca tertentu. Akan tetapi, perubahan bentuk tulisan juga dapat memengaruhi cara pembaca memahami karya tersebut.
Bayangkan sebuah puisi diubah menjadi paragraf biasa. Cerita utamanya mungkin masih dapat dikenali, tetapi irama, keindahan bahasa, dan sebagian pengalaman membaca bisa berubah.
Hal serupa perlu dipertimbangkan ketika mempelajari perubahan Babad Tanah Jawi.
Penelitian saya menunjukkan bahwa pekerjaan ilmuwan Belanda tersebut tidak dapat dilepaskan dari kebutuhan pemerintahan kolonial untuk memahami bahasa, adat, sejarah, dan kehidupan masyarakat Jawa.
Jadi, perubahan bentuk babad bukan hanya persoalan membuat bacaan menjadi lebih sederhana. Perubahan itu juga berkaitan dengan siapa yang mempelajari pengetahuan Jawa dan untuk kepentingan apa pengetahuan tersebut digunakan.
4. Mengubah cerita sejarah dapat memengaruhi cara orang mengingat masa lalu
Salah satu contoh menarik dalam penelitian saya berkaitan dengan kisah Raden Trunajaya, tokoh dari Madura yang pernah melakukan perlawanan terhadap kekuasaan Mataram.
Dalam pembahasan para ahli, terdapat perbedaan cara beberapa versi babad menggambarkan kematian Trunajaya.
Salah satu penafsiran yang dikemukakan J. J. Ras adalah bahwa penggambaran kekerasan dalam versi tertentu menjadi lebih lunak (Ras, 1987).
Mengapa sebuah cerita tentang kematian tokoh sejarah perlu diubah?
Ada dugaan bahwa perubahan tersebut berkaitan dengan hubungan politik dan keluarga kerajaan. Pada 1834, Pakubuwana VII menikahi seorang putri dari Madura, wilayah tempat Trunajaya dikenang sebagai tokoh penting.
Karena itu, muncul kemungkinan bahwa penggambaran kematian Trunajaya dibuat lebih hati-hati agar tidak menimbulkan persoalan dalam lingkungan kerajaan.
Namun, kita tidak dapat langsung menyatakan bahwa perkawinan kerajaan itulah penyebab perubahan cerita. Hubungan tersebut masih merupakan hipotesis yang diperdebatkan para peneliti.
Contoh ini memperlihatkan sesuatu yang penting: perbedaan kecil dalam sebuah naskah dapat membuka pertanyaan besar tentang hubungan antara sejarah, perasaan masyarakat, dan kepentingan politik.
Mengapa Temuan Ini Penting bagi Kita?
Mungkin kamu bertanya, apa hubungan penelitian tentang naskah kuno dengan kehidupan kita sekarang?
Hubungannya terletak pada cara kita menerima informasi.
Setiap hari kita membaca cerita sejarah di buku pelajaran, menonton video tentang tokoh terkenal, atau menemukan unggahan yang mengaku menjelaskan kejadian masa lalu.
Namun, tidak semua informasi disusun dengan cara yang sama. Ada cerita yang berasal dari dokumen lama, ada yang merupakan hasil penelitian, dan ada pula yang hanya menyampaikan pendapat seseorang.
Penelitian tentang Babad Tanah Jawi mengingatkan kita untuk memeriksa siapa yang membuat sebuah tulisan, sumber apa yang digunakan, serta apakah ada kepentingan tertentu dalam cara cerita disampaikan.
Kita juga belajar bahwa sebuah karya budaya tidak selalu mempunyai satu bentuk yang tetap. Naskah dapat disalin, diterjemahkan, disunting, dan diterbitkan kembali dalam keadaan yang berbeda.
Karena itu, membaca sejarah secara kritis bukan berarti mencurigai semua cerita. Membaca secara kritis berarti berusaha memahami bukti dan alasan sebelum menerima suatu kesimpulan.
Sikap tersebut penting bukan hanya ketika mempelajari kerajaan Jawa, tetapi juga ketika menghadapi informasi di internet.
Apa yang Belum Bisa Saya Jawab?
Penelitian ini belum berhasil menentukan secara pasti bagian mana dari Babad Tanah Jawi yang ditulis oleh masing-masing pujangga.
Keterbatasan bukti naskah membuat hubungan antara Carik Bajra, Yasadipura I, dan Yasadipura II masih membutuhkan penelitian lebih jauh.
Begitu pula dugaan mengenai persaingan politik antara para pujangga dan alasan perubahan beberapa bagian cerita. Penjelasan tersebut membantu memahami kemungkinan yang ada, tetapi belum semuanya dapat dipastikan.
Penelitian saya juga tidak membuktikan bahwa setiap perubahan yang dilakukan ilmuwan Belanda selalu dimaksudkan untuk menguasai masyarakat Jawa. Yang dapat ditunjukkan adalah hubungan antara kegiatan penerjemahan, pembelajaran bahasa, dan kebutuhan pemerintahan kolonial.
Untuk memperoleh gambaran yang lebih lengkap, penelitian berikutnya perlu membandingkan lebih banyak naskah, memeriksa perbedaan bahasa secara terperinci, dan menelusuri bukti sejarah lain.
Sejarah Bukan Hanya tentang Apa yang Terjadi
Sekarang, mari kembali pada pertanyaan di awal: siapa yang berhak disebut penulis ketika sebuah cerita terus mengalami perubahan?
Melalui penelitian Babad Tanah Jawi, saya menemukan bahwa jawabannya tidak selalu sederhana.
Yasadipura I mempunyai peran besar dalam penyusunan versi utama babad. Namun, karya tersebut juga dibentuk oleh para pujangga sebelumnya, perubahan dalam lingkungan kerajaan, serta kegiatan penyuntingan dan penerjemahan pada masa kolonial.
Yang paling menarik bagi saya adalah bahwa sebuah naskah dapat memperlihatkan hubungan antara pengetahuan dan kekuasaan. Orang yang menulis sejarah tidak selalu berada di luar peristiwa yang diceritakannya. Ia dapat menjadi bagian dari keadaan politik dan kebudayaan pada zamannya.
Karena itu, ketika membaca cerita sejarah, ada baiknya kita tidak berhenti pada pertanyaan, "Apa yang terjadi?"
Kita juga dapat bertanya, "Siapa yang menceritakannya, dari mana ia mengetahui kisah tersebut, dan mengapa ia menuliskannya dengan cara itu?"
Pertanyaan-pertanyaan itulah yang membuat sejarah semakin menarik untuk dipelajari.
Kata Baru
- Babad
- Karya sastra sejarah yang menceritakan asal-usul, silsilah, dan perjalanan suatu wilayah atau kerajaan.
- Pujangga
- Seseorang yang memiliki keahlian dalam menciptakan karya sastra, termasuk karya yang berkembang di lingkungan kerajaan.
- Tembang
- Bentuk karya sastra Jawa yang memiliki aturan tertentu mengenai susunan dan irama.
- Prosa
- Bentuk tulisan yang tidak mengikuti aturan irama seperti puisi atau tembang.
- Filologi
- Bidang ilmu yang mempelajari naskah dan teks lama, termasuk bahasa, penyalinan, perubahan, serta sejarah perkembangannya.
- Kolonialisme
- Penguasaan suatu wilayah dan masyarakat oleh kekuatan dari luar, yang dapat memengaruhi kehidupan politik, ekonomi, dan kebudayaan.
- Legitimasi
- Pengakuan bahwa seseorang atau suatu kekuasaan dianggap memiliki hak atau dasar yang sah.
Giliran Kamu Bertanya!
Bayangkan kamu menemukan dua buku sejarah yang menceritakan peristiwa yang sama, tetapi penggambaran tokohnya berbeda.
Bagaimana cara menentukan cerita mana yang lebih dapat dipercaya?
Apakah kamu akan memeriksa siapa penulisnya, membandingkan sumbernya, atau mencari bukti lain?
Coba jelaskan alasanmu.
Referensi dan Bacaan Lanjutan
Referensi berikut menjadi dasar bacaan tentang penulisan sejarah Jawa dan perubahan naskah. Daftar disusun alfabetis mengikuti gaya APA.
- Fawaid, A. (2025). Writing Java: The politics of authorship and colonial philology in Babad Tanah Jawi. Islamic History and Literature, 3(2), 5–20. https://doi.org/10.62476/ihl.32.05
- Ras, J. J. (1987). The genesis of the Babad Tanah Jawi: Origin and function of the Javanese court chronicle. Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde, 343–356.
- Remmelink, W. (2022). Babad Tanah Jawi, the Chronicle of Java: The Revised Prose Version of C. F. Winter Sr. Leiden University Press.
- Ricklefs, M. C. (1997). The Yasadipura problem. Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde, 273–283.
- Wieringa, E. P. (1999). An old text brought to life again. Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde, 155(2), 244.
Catatan Editorial Lensa Muda
Artikel ini merupakan adaptasi populer dari penelitian Achmad Fawaid (2025) bagi pembaca remaja usia 12–17 tahun. Penelitian aslinya menggunakan analisis naskah dan sumber sejarah, bukan eksperimen atau survei.
Ilustrasi tentang buku sejarah sekolah merupakan contoh penjelas, bukan data penelitian. Dugaan persaingan Carik Bajra dan Yasadipura I serta alasan perubahan kisah Trunajaya dipaparkan sebagai penafsiran yang masih diperdebatkan. Sudut pandang “saya” dalam adaptasi ini perlu ditinjau dan disetujui peneliti sebelum publikasi atas namanya.
Siapa Sebenarnya yang Menulis Babad Tanah Jawi? Achmad Fawaid, Universitas Pembangunan Nasional "Veteran" Jawa Timur, Indonesia Lensa Muda · Dari Penelitian · Agama dan Budaya Buku sejarah yang kita baca hari ini ternyata bisa mengalami banyak perubahan. Penelitian saya tentang Babad Tanah Jawi memperlihatkan bagaimana pujangga kerajaan dan ilmuwan Belanda ikut membentuk cerita tentang masa lalu Jawa. Artikel pengetahuan berbasis penelitian sejarah dan naskah kuno · Penelitian terbit 2025 · Pembaca remaja (12–17 tahun) Ringkasan Pernahkah kamu bertanya siapa yang menentukan cerita sejarah yang kita baca? Apakah orang yang pertama kali menulisnya, orang yang memperbaiki tulisannya, atau orang yang menerbitkannya menjadi buku? Pertanyaan itulah yang saya pelajari melalui Babad Tanah Jawi , sebuah karya sastra sejarah yang menceritakan asal-usul dan perjalanan kerajaan-kerajaan di Jawa. Naskah ini mengalami perubahan selama hampir dua abad dan melibatkan sejumlah ...

