Mengapa Memahami Al-Qur’an Tidak Berhenti pada Membaca Ayatnya?

Lensa Muda · 4 November 2026

Untuk menyimpan artikel sebagai PDF: Ctrl + P (Windows/Linux/ChromeOS) atau ⌘ + P (macOS), lalu pilih Simpan sebagai PDF. Di ponsel, gunakan menu Bagikan/Cetak.

LENSA MUDA · DARI PENELITIAN · AGAMA DAN BUDAYA

Membaca ayat, memahami maksudnya, lalu memikirkan apa artinya bagi kehidupan: itulah tiga langkah yang saya temukan ketika mempelajari gagasan tafsir Hasan Hanafi.

Artikel pengetahuan berbasis kajian pustaka · Penelitian terbit 2020 · Pembaca Remaja (12–17 tahun)

Ringkasan

Pernah membaca sebuah kalimat, tetapi baru memahami maksudnya setelah mengetahui cerita di baliknya? Pertanyaan seperti itu juga penting ketika orang mempelajari teks agama. Dalam kajian yang saya terbitkan pada 2020, saya menelusuri pemikiran Hasan Hanafi, seorang pemikir Muslim dari Mesir, tentang cara memahami Al-Qur’an. Saya mempelajari tulisan-tulisan ilmiah dan contoh perdebatan tafsir di Indonesia, bukan melakukan survei. Saya menemukan bahwa pendekatan Hanafi menekankan tiga hal: memeriksa sejarah teks, memahami maknanya, dan menghubungkan hasil pemahaman dengan persoalan nyata. Kajian ini mengajak kita melihat mengapa memahami sebuah teks membutuhkan ketelitian, pengetahuan, dan tanggung jawab dalam bertindak.

Kata kunci: Al-Qur’an; tafsir; Hasan Hanafi; hermeneutika; sejarah dan tindakan.

Satu Kalimat, Mengapa Bisa Dipahami Berbeda?

Bayangkan seorang guru menulis pesan di grup kelas: “Besok semua harus datang lebih awal.” Kamu mengira kelas akan dimulai lebih pagi. Temanmu justru menduga ada kegiatan membersihkan ruang kelas. Kalian membaca kalimat yang sama, tetapi memahami maksudnya secara berbeda.

Setelah guru menjelaskan bahwa sekolah akan mengadakan acara pagi, barulah maksud pesan itu menjadi jelas. Ternyata, untuk memahami beberapa kalimat, kita perlu mengetahui keadaan di baliknya.

Contoh tadi sederhana. Namun, pertanyaan tentang cara memahami tulisan menjadi jauh lebih penting ketika yang dibaca adalah teks keagamaan. Kata-kata perlu dipelajari dengan cermat. Sejarah dan keadaan orang yang menerima pesan juga tidak boleh dilupakan.

Ketika mempelajari pemikiran tafsir, saya tertarik pada satu pertanyaan: apakah pekerjaan memahami teks selesai setelah kita mengetahui arti kata-katanya?

Mengapa Saya Meneliti Pemikiran Hasan Hanafi?

Nama saya Mubaidi Sulaeman. Dalam kajian yang saya terbitkan di jurnal SALIMIYA pada 2020, saya membahas pemikiran seorang sarjana Muslim asal Mesir bernama Hasan Hanafi dan kaitannya dengan studi Al-Qur’an di Indonesia (Sulaeman, 2020).

Hasan Hanafi tertarik pada bagaimana ajaran agama dipahami dan dihubungkan dengan persoalan manusia, termasuk ketidakadilan dan penindasan. Bagi Hanafi, penafsiran tidak cukup berhenti sebagai penjelasan dalam buku. Hasil pemahaman juga perlu dipikirkan hubungannya dengan kehidupan masyarakat.

Dalam kajian tersebut, saya menelusuri gagasan yang disebut hermeneutika. Istilah ini terdengar rumit, tetapi arti sederhananya adalah usaha memahami dan menafsirkan pesan atau teks secara teliti. Dalam kajian Al-Qur’an, pembahasan tentang cara memahami ayat dikenal pula melalui ilmu tafsir.

Pertanyaan kajian saya: Bagaimana Hasan Hanafi menghubungkan sejarah, pemahaman teks, dan tindakan manusia—serta bagaimana cara berpikir itu tampak dalam salah satu perdebatan tafsir di Indonesia?

Bagaimana Saya Melakukan Kajian Ini?

Penelitian yang saya tulis merupakan kajian pemikiran melalui sumber tertulis. Saya membaca dan membahas karya-karya tentang Hasan Hanafi, sejarah hermeneutika, serta tulisan yang memperlihatkan perbedaan cara menafsirkan ayat Al-Qur’an.

Saya kemudian menjelaskan pokok-pokok gagasan Hanafi dan menelusuri sebuah contoh perdebatan penafsiran di Indonesia. Jadi, saya tidak mewawancarai siswa, membagikan kuesioner, atau menguji perubahan perilaku orang setelah membaca ayat. Yang saya teliti adalah gagasan, metode memahami teks, dan contoh penggunaannya dalam perdebatan ilmiah.

Apa yang Saya Temukan?

Dari penelusuran saya, ada tiga gagasan yang paling membantu untuk mengenal pendekatan Hasan Hanafi. Ketiganya saling berkaitan, bukan tiga pilihan yang berdiri sendiri.

1. Memahami teks perlu perhatian pada sejarahnya

Langkah pertama dalam uraian Hasan Hanafi adalah kesadaran historis. Artinya, peneliti perlu memberi perhatian pada sejarah dan keaslian teks yang sedang dipelajari.

Dalam pembahasan kitab suci, persoalan itu tentu jauh lebih rumit daripada membaca pesan di grup kelas. Hanafi mengajukan cara memeriksa perjalanan teks dengan serius sebelum penafsir mulai menjelaskan maknanya.

Pelajaran sederhananya adalah bahwa sebuah tulisan tidak sebaiknya langsung diberi kesimpulan tanpa mengetahui sumber dan latar belakangnya.

2. Makna tidak cukup ditebak dari satu kata

Langkah berikutnya disebut kesadaran eidetik, yaitu proses memahami makna. Dalam uraian yang saya pelajari, Hanafi menekankan analisis bahasa, konteks sejarah, dan usaha memahami pesan yang lebih luas dari sebuah teks.

Bayangkan kamu membaca potongan kalimat dari sebuah percakapan, tetapi tidak mengetahui kalimat sebelum dan sesudahnya. Kamu mungkin menangkap arti yang berbeda dari maksud percakapan lengkap. Contoh ini hanya ilustrasi untuk menjelaskan pentingnya konteks, bukan hasil pengamatan terhadap pelajar.

Dalam studi tafsir, ketelitian seperti ini memerlukan pengetahuan bahasa dan metode yang tidak sesederhana membaca terjemahan saja.

3. Pemahaman perlu dihubungkan dengan kehidupan

Bagian ketiga disebut kesadaran praktis. Inilah bagian yang paling menonjol dalam pemikiran Hasan Hanafi. Ia menginginkan agar penafsiran membantu manusia memikirkan persoalan nyata, bukan berhenti pada pengetahuan di atas kertas (Hanafi, 2003).

Misalnya, ketika seseorang mempelajari gagasan tentang keadilan, pertanyaannya tidak berhenti pada “apa arti adil?”. Ia juga dapat bertanya, “bagaimana keputusan yang adil dibuat ketika beberapa orang memiliki kepentingan berbeda?”

Contoh tentang keadilan ini membantu kita membayangkan hubungan antara pemahaman dan tindakan. Saya tidak menelitinya sebagai percobaan atau sebagai bukti bahwa semua pembaca akan otomatis bertindak lebih adil.

Tiga tahap dalam pendekatan Hasan Hanafi — disederhanakan untuk pembaca muda
TahapPertanyaan sederhanaYang diperhatikan
SejarahBagaimana asal-usul dan perjalanan teks?Keaslian dan latar sejarah
PemahamanApa makna yang dijelaskan teks?Bahasa, susunan kalimat, dan konteks
TindakanApa hubungan pemahaman itu dengan kehidupan?Masalah nyata dan tanggung jawab manusia

Sumber: penyederhanaan tiga tahap yang dibahas dalam Sulaeman (2020); lihat pula pembahasan metodologi Hanafi dalam Saenong (2002). Tabel ini bukan hasil survei atau pengukuran perilaku.

Contoh yang saya bahas: mengapa tafsir bisa diperdebatkan?

Dalam tulisan ilmiah saya, salah satu contoh yang dibicarakan adalah perbedaan penafsiran ayat-ayat Al-Qur’an terkait pernikahan beda agama. Saya menjelaskan bagaimana sebagian pemikir yang dikaitkan dengan Jaringan Islam Liberal di Indonesia membaca QS. Al-Baqarah ayat 221 dan QS. Al-Ma’idah ayat 5 dengan memperhatikan sejarah serta perbedaan pengertian istilah di dalamnya.

Pandangan yang saya paparkan itu merupakan salah satu posisi dalam perdebatan tafsir, bukan ketentuan yang disepakati semua ulama. Ada penafsiran dan kesimpulan hukum lain yang berbeda. Karena itu, contoh ini lebih tepat dibaca sebagai gambaran bahwa metode dan konteks dapat memengaruhi kesimpulan seorang penafsir, bukan sebagai jawaban praktis untuk persoalan perkawinan.

Mengapa Temuan Ini Penting?

Dari kajian ini, saya melihat bahwa belajar memahami teks keagamaan membutuhkan lebih dari sekadar mengingat kalimat. Ada pekerjaan untuk meneliti sumber, mempelajari bahasa, mempertimbangkan sejarah, dan memahami mengapa orang dapat berbeda pendapat.

Hal lain yang penting adalah hubungan antara pengetahuan dan tanggung jawab. Hasan Hanafi menempatkan persoalan manusia—seperti ketidakadilan—sebagai bagian dari pertanyaan yang perlu dipikirkan dalam penafsiran.

Untuk pembaca muda, pelajarannya bukan bahwa semua orang bebas menafsirkan ayat sesuka hati. Justru sebaliknya: semakin penting sebuah teks, semakin besar kebutuhan untuk belajar dengan teliti, membaca sumber secara lengkap, dan mendengarkan penjelasan orang yang memiliki keahlian.

Di sini, membandingkan pendapat juga bukan berarti semua pendapat harus dianggap sama. Kita tetap perlu bertanya tentang alasan, bukti, cara penafsiran, dan batas suatu kesimpulan.

Apa yang Belum Bisa Saya Jawab?

Karena penelitian saya berupa pembahasan pemikiran dan sumber tertulis, kajian ini tidak mengukur apakah orang yang membaca karya Hasan Hanafi menjadi lebih adil atau mengubah perilakunya.

Saya juga tidak melakukan survei terhadap seluruh penafsir atau masyarakat Muslim Indonesia. Contoh perdebatan tafsir yang saya bahas tidak dapat mewakili semua pandangan yang berkembang di Indonesia.

Selain itu, penjelasan mengenai metode Hasan Hanafi adalah uraian tentang satu pendekatan di antara beragam pendekatan dalam studi Al-Qur’an. Untuk menilai persoalan hukum atau keagamaan tertentu secara lengkap, pembaca tetap memerlukan kajian yang lebih luas dan sumber-sumber yang sesuai.

Dari Membaca ke Memahami, lalu Bertanya tentang Tindakan

Kita kembali pada cerita pesan guru di grup kelas tadi. Mengetahui kata-katanya ternyata belum selalu cukup. Kadang kita perlu menanyakan apa latar belakang pesan itu dan apa yang dimaksudkan.

Dalam penelitian saya tentang Hasan Hanafi, pertanyaan itu berkembang lebih jauh: bagaimana sejarah teks diperiksa, bagaimana maknanya dipahami, dan bagaimana hasil pemahaman dihubungkan dengan persoalan manusia?

Pesan yang ingin saya tinggalkan sederhana: membaca adalah awal, memahami membutuhkan usaha, dan bertindak memerlukan tanggung jawab.

Giliran kamu bertanya: Pernahkah kamu salah memahami pesan karena hanya membaca sebagian kalimat? Informasi apa yang akhirnya membantumu memahami maksudnya dengan lebih baik?

Referensi dan Bacaan Lanjutan

Sumber di bawah merupakan tulisan ilmiah dan buku yang dibahas dalam artikel ini.

  1. Hanafi, H. (2003). Liberalisasi, revolusi, hermeneutik (J. Firdaus, Penerj.). Prisma.
  2. Saenong, I. B. (2002). Hermeneutika pembebasan: Metodologi tafsir Al-Qur’an menurut Hasan Hanafi. Teraju.
  3. Sulaeman, M. (2020). Pemikiran hermeneutika Al-Qur’an Hasan Hanafi dalam studi Al-Qur’an di Indonesia. SALIMIYA: Jurnal Studi Ilmu Keagamaan Islam, 1(2), 1–26. Laman jurnal.

Tentang Penulis

Mubaidi Sulaeman menulis kajian tentang pemikiran hermeneutika Al-Qur’an Hasan Hanafi dan studi Al-Qur’an di Indonesia. Pada publikasi ilmiah tahun 2020 yang menjadi dasar tulisan ini, penulis berafiliasi dengan Universitas Islam Tribakti Lirboyo Kediri, Indonesia. Surel: abid3011@gmail.com.

Catatan Editorial

Artikel ini ditulis dengan gaya populer dari sudut pandang penulis penelitian, Mubaidi Sulaeman. Penelitian yang dibahas merupakan kajian sumber tertulis, bukan penelitian lapangan atau eksperimen. Contoh pesan guru dan penerapan keadilan di kehidupan sehari-hari digunakan sebagai ilustrasi, bukan sebagai hasil pengamatan. Perbedaan penafsiran yang disebutkan merupakan bagian dari perdebatan ilmiah, bukan kesimpulan hukum yang berlaku untuk semua orang. Identitas penulis dan rujukan mengikuti publikasi ilmiah tahun 2020.