Bisakah Lelucon Membuat Kita Belajar Menghargai Perbedaan?

Lensa Muda · 2 November 2026

Untuk menyimpan artikel sebagai PDF: Ctrl + P (Windows/Linux/ChromeOS) atau ⌘ + P (macOS), lalu pilih Simpan sebagai PDF. Di ponsel, gunakan menu Bagikan/Cetak.

LENSA MUDA · DARI PENELITIAN · AGAMA DAN BUDAYA

Lelucon di media sosial ternyata bisa menyimpan kritik tentang kebiasaan mudah menghakimi orang lain. Namun, tidak semua pembaca menangkap pesan yang sama.

Artikel sains populer · Penelitian asli terbit 2026 · Pembaca Remaja (12–17 tahun)

Ringkasan

Apa hubungan lelucon dengan sikap menghargai perbedaan? Bersama dua rekan, saya meneliti 103 unggahan dan interaksi di akun X @NUGarisLucu, yang menggunakan humor untuk membicarakan agama. Kami menemukan bahwa sindiran dan permainan kata dipakai untuk mengkritik kebiasaan merasa paling benar, merendahkan orang lain, dan menolak perbedaan. Tanggapan pembaca pun beragam: ada yang setuju, setuju sebagian, dan tidak setuju. Temuan ini membantu kita memahami bahwa sebuah lelucon bisa mengajak orang berpikir, tetapi maknanya tidak selalu sama bagi semua orang. Penelitian kami belum membuktikan bahwa membaca lelucon dapat mengubah sikap seseorang.

Kata kunci: humor digital; agama di media sosial; toleransi; NU Garis Lucu.

Ketika Pesan Agama Justru Membuat Kita Tertawa

Pernahkah kamu membaca unggahan tentang agama di media sosial, tetapi bukannya mendapat nasihat panjang, kamu justru menemukan lelucon yang membuatmu tersenyum? Mungkin unggahan itu menyindir orang yang merasa pendapatnya selalu paling benar.

Awalnya kamu tertawa. Namun, setelah memikirkannya kembali, kamu menyadari bahwa lelucon itu sebenarnya sedang membicarakan persoalan serius. Mengapa orang mudah menyalahkan orang lain? Mengapa perbedaan pendapat terkadang berubah menjadi pertengkaran?

Saya tertarik dengan pertanyaan-pertanyaan tersebut, terutama ketika melihat bagaimana agama dibicarakan di media sosial. Pesan agama kini tidak hanya hadir melalui ceramah atau buku, tetapi juga melalui meme, video pendek, permainan kata, dan sindiran.

John C. Meyer, seorang peneliti komunikasi, menjelaskan bahwa humor dapat mendekatkan orang, tetapi juga dapat memisahkan mereka ketika dipakai untuk memperkuat batas antarkelompok (Meyer, 2000). Jadi, tidak semua lelucon mempunyai fungsi yang sama. Lalu, bagaimana jika humor digunakan untuk membicarakan agama dan menghargai perbedaan?

Apa yang ingin kami ketahui?

Bersama Dzulrizkia Rasyida dan Wawan Hernawan dari UIN Sunan Gunung Djati Bandung, saya ikut meneliti akun NU Garis Lucu (@NUGarisLucu) di X, media sosial yang dahulu dikenal sebagai Twitter. Hasil penelitian kami terbit dalam jurnal Subhasita: Journal of Buddhist and Religious Studies pada 2026 (Rasyida et al., 2026).

Akun NU Garis Lucu membicarakan persoalan agama Islam dan kehidupan masyarakat melalui lelucon, gambar, serta sindiran. Akun ini berkaitan secara kultural dengan tradisi Nahdlatul Ulama, tetapi bukan akun resmi organisasi tersebut. Kami tertarik karena pesan yang serius disampaikan dengan gaya yang ringan dan akrab dengan percakapan di internet.

Pertanyaan penelitian: Bagaimana sebuah akun humor menyampaikan pesan tentang toleransi, dan mengapa para pembacanya dapat memahami lelucon yang sama dengan cara berbeda?

Bagaimana kami melakukan penelitian?

Kami mempelajari 103 unggahan dan interaksi digital dari akun @NUGarisLucu selama September 2025 hingga Februari 2026. Isinya beragam, mulai dari tulisan singkat dan meme sampai video pendek, unggahan kutipan, dan balasan.

Kami membaca teks, mengamati gambar dan permainan kata, serta mempelajari tanggapan pengguna lain. Kami tidak ikut berkomentar atau memasuki percakapan. Pendekatan ini disebut analisis isi kualitatif: cara mempelajari pesan untuk menemukan pola dan memahami maknanya, bukan untuk menghitung seberapa banyak orang berubah pikiran.

Rincian jenis konten yang kami pelajari bisa dilihat pada tabel di bagian temuan berikutnya. Angka-angka itu menunjukkan jumlah bahan yang dianalisis, bukan jumlah orang yang diwawancarai atau jumlah remaja yang menjadi responden.

Apa yang kami temukan?

Dari berbagai pesan yang kami amati, ada tiga hal yang paling menarik: lelucon dapat menyampaikan kritik, kritik lebih sering diarahkan pada perilaku daripada identitas, dan pembaca tidak selalu memahami pesan dengan cara yang sama.

1. Lelucon bisa mengkritik tanpa harus memarahi

Salah satu unggahan yang kami pelajari mempertemukan ungkapan keagamaan tentang Ramadan dengan keadaan sosial ketika perjalanan antarkota dibatasi.

“Sesungguhnya di sepuluh hari terakhir Ramadhan, pintu Langit dibuka dan pintu perbatasan antar kota ditutup.”

Sumber: unggahan @NUGarisLucu, dikutip dan dianalisis dalam Rasyida et al. (2026), Gambar 2, hlm. 41.

Bagian awal kalimat itu terdengar seperti nasihat keagamaan, tetapi bagian akhirnya tiba-tiba membicarakan penutupan perbatasan antarkota. Dua hal yang tidak terduga disatukan menjadi sebuah sindiran. Dalam penelitian kami, ungkapan tersebut dipahami sebagai kritik terhadap keadaan sosial, bukan ejekan terhadap ajaran Ramadan.

Cara menyampaikan kritik melalui kelucuan seperti ini disebut satire. Kami menemukan bahwa akun NU Garis Lucu juga menggunakan permainan kata dan gambar lucu untuk mengajak pembaca memikirkan kembali sikap yang berlebihan.

2. Yang disindir terutama perilakunya

Bayangkan dua teman sedang berbeda pendapat. Teman pertama mengatakan, “Aku tidak setuju karena alasannya kurang tepat.” Teman kedua malah berkata, “Pendapatmu salah karena kamu memang tidak pintar.” Keduanya berbeda pendapat, tetapi hanya yang kedua menyerang pribadi.

Dalam unggahan yang kami pelajari, sindiran umumnya diarahkan pada kebiasaan merasa paling benar, cepat menghakimi, merendahkan orang lain, atau menolak perbedaan. Pesan yang ditampilkan mengajak pembaca untuk menghargai orang lain, lebih rendah hati, dan membuka ruang percakapan. Toleransi tidak mengharuskan semua orang memiliki pendapat yang sama; toleransi berarti menghargai hak orang lain ketika ada perbedaan.

Penelitian James Bourk Hoesterey tentang NU Garis Lucu juga menggambarkan bagaimana humor dipakai dalam percakapan keagamaan daring yang sering diwarnai ketegangan dan perbedaan pandangan (Hoesterey, 2021). Temuan ini berasal dari penelitian lain, bukan dari tambahan unggahan dalam kumpulan data kami.

3. Lelucon yang sama bisa ditanggapi berbeda

Pernah mengirim meme yang menurutmu lucu, tetapi temanmu tidak tertawa? Hal serupa terlihat dalam tanggapan pengguna terhadap unggahan NU Garis Lucu. Sebagian mendukung pesannya. Sebagian setuju dengan gagasan utamanya, tetapi menambahkan syarat atau penjelasan. Sebagian lagi menolak pesan atau menganggap humornya kurang tepat.

Mengapa? Karena orang membaca pesan berdasarkan pengalaman, pengetahuan, dan pandangannya sendiri. Pembuat unggahan mungkin bermaksud menyampaikan satu hal, tetapi pembacanya dapat memahami hal yang lain. Karena itulah balasan dan unggahan kutipan juga penting dalam penelitian kami.

Tabel 1. Bentuk konten yang kami pelajari
Bentuk kontenJumlahContoh kegunaan
Tulisan singkat40Menyampaikan sindiran atau permainan kata
Unggahan kutipan22Menanggapi pesan dari pengguna lain
Balasan14Melanjutkan percakapan atau memberi tanggapan
Meme atau gambar21Menggabungkan pesan dengan kelucuan visual
Video pendek6Menyampaikan pesan melalui gambar bergerak dan suara
Jumlah103Seluruh bahan yang dianalisis

Sumber: Rasyida et al. (2026), Tabel 1, hlm. 40. Jumlah menunjukkan unit konten dan interaksi yang dipelajari, bukan jumlah penonton atau responden.

Mengapa temuan ini penting?

Penelitian kami membantu menjelaskan mengapa humor kadang dipakai untuk membicarakan masalah serius. Dengan kalimat singkat dan permainan kata, pembuat konten dapat mengajak pembaca memikirkan kebiasaan menghakimi orang lain tanpa selalu menggunakan nasihat panjang.

Akan tetapi, lelucon yang mengkritik perilaku berbeda dari lelucon yang merendahkan identitas seseorang. Menyindir kebiasaan tidak mau mendengarkan pendapat orang lain tidak sama dengan mengejek seseorang karena agama atau keyakinannya. Meyer (2000) pun menjelaskan bahwa humor dapat menyatukan sekaligus memisahkan orang.

Dalam penelitian lain yang saya tulis bersama Abdul Wasik, kami mempelajari bagaimana akun NU Garis Lucu menggunakan bahasa Indonesia sehari-hari, ungkapan Jawa, dan kisah dunia pesantren untuk menampilkan identitas keagamaan (Busro & Wasik, 2026). Penelitian itu memakai kumpulan data yang berbeda. Jika dibaca bersama, kedua penelitian ini mengingatkan kita bahwa cara menyampaikan pesan—bahasa, gambar, dan humor—sama pentingnya untuk dipelajari dengan isi pesannya.

Ketika melihat lelucon di internet, kita bisa bertanya: apa yang sebenarnya sedang dibicarakan? Perilaku apa yang dikritik? Adakah orang yang justru direndahkan? Dan apakah kita sudah memahami peristiwa yang menjadi latar lelucon itu?

Apa yang belum kita ketahui?

Penelitian kami hanya mengamati satu akun selama enam bulan dan mempelajari interaksi yang tampak secara terbuka. Kami tidak mewawancarai seluruh pembaca dan tidak mengukur perubahan sikap mereka sebelum dan sesudah melihat unggahan.

Karena itu, kami belum membuktikan bahwa membaca lelucon membuat seseorang menjadi lebih toleran. Kami dapat menjelaskan bagaimana humor dipakai dan bagaimana orang menanggapinya, tetapi belum dapat memastikan pengaruhnya terhadap perilaku dalam kehidupan sehari-hari. Jawaban itu membutuhkan penelitian lanjutan.

Apa yang dapat kita pelajari?

Sekarang bayangkan kamu kembali menemukan unggahan lucu tentang agama di berandamu. Kamu boleh tertawa, tetapi kamu juga bisa mencoba memahami pesan di baliknya. Penelitian kami menunjukkan bahwa humor dapat dipakai untuk menyindir kebiasaan merasa paling benar dan untuk mengajak orang memikirkan pentingnya menghormati perbedaan.

Pada saat yang sama, lelucon yang sama dapat dipahami berbeda oleh pembacanya. Jadi, sebelum langsung menyukai, membagikan, atau membantah sebuah unggahan, coba tanyakan: “Apa yang sebenarnya ingin disampaikan, dan mengapa orang lain mungkin memahaminya secara berbeda?”

Sebab, di balik sebuah lelucon, terkadang ada persoalan penting yang layak kita pikirkan.

Referensi dan Bacaan Lanjutan

Sumber berikut dikutip dalam artikel ini. Penelitian utama dan penelitian pendukung merupakan studi yang berbeda, sehingga datanya tidak digabungkan.

  1. Busro, B., & Wasik, A. (2026). Menjadi Nahdliyin di media sosial: Vernakularisasi identitas dalam @Nugarislucu. Tashwirul Afkar, 45(02), 223–256. https://doi.org/10.51716/ta.v45i02.753
  2. Hoesterey, J. B. (2021). Nahdlatul Ulama’s “Funny Brigade”: Piety, satire, and Indonesian online divides. CyberOrient, 15(1), 85–118. https://doi.org/10.1002/cyo2.8
  3. Meyer, J. C. (2000). Humor as a double-edged sword: Four functions of humor in communication. Communication Theory, 10(3), 310–331. https://doi.org/10.1111/j.1468-2885.2000.tb00194.x
  4. Rasyida, D., Hernawan, W., & Busro, B. (2026). Digital humor as a counter-narrative to radical discourse: The representation of moderate Islam on the NU Garis Lucu account. Subhasita: Journal of Buddhist and Religious Studies, 4(1), 33–54. https://doi.org/10.53417/subhasita.220

Tentang Penulis

Busro adalah peneliti kajian agama dan media digital di UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Ia menulis dan meneliti bagaimana pengalaman, identitas, dan pesan keagamaan hadir dalam kehidupan masyarakat, termasuk di media sosial. Surel: busro@uinsgd.ac.id.

Catatan Editorial

Artikel ini merupakan adaptasi populer dari penelitian Rasyida, Hernawan, dan Busro (2026) dan ditulis dari sudut pandang Busro sebagai salah satu penelitinya. Bahasa ilmiah disederhanakan untuk pembaca muda tanpa mengubah data, temuan, atau batas kesimpulan penelitian. Contoh percakapan antarteman adalah ilustrasi untuk membantu pemahaman, bukan kutipan peserta penelitian. Kutipan unggahan Ramadan diambil dari Gambar 2 penelitian utama; gambar asli tidak direproduksi. Artikel ini belum memuat klaim mengenai penelaahan oleh penelaah muda.